Khusus pecinta puisi, kali ini saya akan memberikan beberapa puisi yang tentunya hasil dari karya sendiri. Jika kita berbicara tentang puisi, berarti kita berbicara mengenai sastra. Hal ini karena puisi merupakan bagian dari karya sastra.
Di Indonesia sendiri, puisi dibagi menjadi beberapa periode. Namun, saya tidak akan membahas tentang periode-periode ataupun sejarah dari puisi. Yang ingin saya bahas adalah bagaimana cara menulis puisi yang bagus.
Penulisan puisi sama seperti penulisan lirik lagu. Yang menjadi pembedanya adalah penekanan keindahan kata dari puisi lebih baik dari pada penulisan sebuah lirik lagu, misalnya kata-kata yang bermajas, kata-kata pengandaiannya. Semua kata yang digunakan memiliki kelas yang sangat tinggi. Hal ini yang menjadikan puisi termasuk dalam pembelajaran di sekolah.
Berikut kumpulan hasil karya saya sendiri. Puisi-puisi dibawah ini mengikuti aturan puisi lama dan puisi modern.
Selamat membaca!
Penulisan puisi sama seperti penulisan lirik lagu. Yang menjadi pembedanya adalah penekanan keindahan kata dari puisi lebih baik dari pada penulisan sebuah lirik lagu, misalnya kata-kata yang bermajas, kata-kata pengandaiannya. Semua kata yang digunakan memiliki kelas yang sangat tinggi. Hal ini yang menjadikan puisi termasuk dalam pembelajaran di sekolah.
Berikut kumpulan hasil karya saya sendiri. Puisi-puisi dibawah ini mengikuti aturan puisi lama dan puisi modern.
Selamat membaca!
Seperti Mereka
Sepoi
angin gugurkan dedaunan
Terbangkan
debu tanpa ada jejak
Gumpalan
awan pasrah melayang
Dihempas
tanpa arah dan tujuan
Mentari
berdiri tanpa menopang
Terangi
hari tanpa mengeluh
Ombak
saling berkejaran
Disambut
ria pohon ketapang
Sudut
aliran sungai menyambung
Sampaikan
salam dari pegunungan
Janjikan
mimpi yang sempurna
Diatas
siklus kehidupan semu
Aku
sejenak berpikir
Memandang
melalui hati
Melayangkan
pertanyaan dalam diri
Apakah
aku seperti mereka?
#.viancapestrano (02-12-2014)
= RASAKU DISINI
=
Hidupku terus beranjak mengikuti waktu.
Alurnya tak tentu dihempas jalanan.
Hanya mimpi yang mengiringi,namun.
Tak pernah nyata untuk ku raih.
Untuk
apa aku hidup?
Untuk
mati?
Untuk
menderita?
Atau,mengetahui hidupku yang liar?
Aku bukanlah boneka!
Dibuang kerasnya opini mulut-mulut munafik.
Membakar aku bersama dahan pohon-pohon rapuh.
Jiwaku belum beranjak dari raga.
Nafasku
belum ingin berhenti menemaniku.
Ribuan
tahun aku berdiri, tepat disini!
Tapi
sayang, aku hanyalah bayangan yang terlupakan.
Dipandang
tak terlihat.
Mendengar
tak bersuara.
#.viancapestrano (28-11-2014)
KERINDUAN SANG KEKASIH
Dia menunduk tanpa suara
Ada rasa yang terpendam
Di sana, menunggu tak henti
Di bawah pohon ketapang tua
Bumi terus mengitari mentari
Sejuknya pagi, indahnya rona petang
Sahabat sajatinya
Ketika penantiannya berlanjut
Bukan hati tak ingin
Waktu, keadaan terus
berpaling
Semua tak berpihak
Rindumu terbawa mimpi
#.viancapestrano (24-10-2014)
AKU DAN PELITA
Kala
waktu takan menyapa
Apakah
mataku tetap terbuka?
Pelita kecil menyala redup
Air matanya telah habis menetes.
Samar-samar terlihat
Aku!Bukan,tapi
dia.
Selalu
bahagia.
Siulan menghibur
Dia bergantung dengan santainya.
Aku sejenak mengejek.
Bukan untuknya,tapi untukku
Sendiri,tak
pernah bahagia.
Tertunduk
dan tak pernah tersenyum.
#.viancapestrano (11-09-2014)
=
Kisah Penantian =
Suasana
hati seperti belati
Menusuk
mati tak tak pernah berhenti
Terus
menunggu cinta sejati
Dalam
peti dijaga seekor merpati
Dia
menanti di tepi pantai
Menyusun
rantai panjang menguntai
Dibawah
melati yang selalu menyertai
Menemani
harinya dengan bersantai
Gemulai
ombak yang terurai
Menghempas
nyiur belai menari
Sampaikan
bisikan angin dengan berseri
Menantikan
kabar
Menantikan
kembalinya sebuah kisah
Sang
mentari tersenyum memandang terbalik
Mengantarnya
kembali seraya tersenyum berbalik
Semaikan
pesan semakin membaik
Rindu
yang ada terus membaik
#.Capestrano
oktavian (24-11-2014)
Di Persimpangan Itu
Bukanlah
takdir atau pilihan
Dilepaskan
tumpuannya dan menghilang
Dikhianati
sayapnya
Dilupakan
jemarinya
Ditengah
persimpangan jalan itu
Dia
masih tegap berdiri
Dia
masih tegar bertahan
Hanya
seorang diri
Saat
tiba masanya
Waktupun
pasti akan berpaling
Dirinya
Masih
jalani dan terus jalani
Tetap
setia dan masih manampakan diri
Mengejar
waktu sebisa munkin
Ia
adalah saksi
Derasnya
arus melalang buana
Damainya
alur berdendang sendu
Pohon
di persimpangan sungai
Akankah
ia tetap sperti itu?
Tetap
tegar untuk berdiri
Tetap
tegar menghalau goncangan
Untuk
mereka semua
#.viancapestrano (04-12-2014)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar