Narasi
Monolog Kehidupan
Berjalan dari satu sisi
ke sisi lainnya adalah sebuah hal yang sangat sulit untuk di hadapi. Jalanan
penuh bebatuan membuat aku harus
terantuk dan terus terantuk. Puing-puing jejak tapak kakiku terus membekas. Banyak
halusinasi yang membuat aku terus berputar di sekitarnya. Problematika yang
hanya sementara membuat aku berpaling dari kepasrahan diri.
Tawaku sekejap sekedar
menghadirkan naluri pertahanan yang mulai menipis. Sepanjang tatapan mata
bukanlah harapan yang tersimpan, namun kehancuran yang selalu tercermin. Puitisku
berpaling dari benakku dan syairku terus bergelut melawan kekhilafan akal
sehat.
Mimpi ini kadang
berpulang, entah dimana dia harus beristirahat. Memoriku kini tak bertuan, melayang
jauh dalam pikiran ini. Masaku masih begitu panjang untuk dijalani, namun
rasaku begitu jauh untuk tercapai.
Menjauh dan bergerak
tanpa aku bisa mengendalikannya. Sanubariku diam tak bergerak menghasilkan alur
hidup yang terus tak menentu. Jati diriku mulai menghilang dan masih menanti
kedatanganku kembali padanya. Tanganku tidak lagi bergerak mengikuti alunan pikiranku, spesifik edukasi yang terlampau
rumit ku terima. Manis hidup hanyalah fiktif belaka takan menjadi nyata dalam
hidupku.
Media melenceng dari
rencana mengantar mimpiku berpulang pada gugusannya. Masih tergambar jelas
kenyataan, namun kepahitan terlampau amat banyak terlukiskan. Suara tak bertuan
menghampiri sesering mungkin memberi bisikan halus menembus gendang telinga. Semua
terhalangi properti syaraf berpikirku. Kepakan
sayap pembebasan begitu berat menghambat satu prioritas kebangkitan dari keterpurukan takan
bisa melambung tinggi. Pergerakan lambat kemudi kreasi mengajak prestasi
menurun tak pernah mendaki.
Peralihan diriku begitu
menekan dan menuntut pemulihan secepatnya. Ada gemuruh pemberhentian yang mengekang
sanubari untuk menahan ambisi. Warna kelabu menghiasi latar mungkin takan
terhapus dalam pejam mataku. Logika berpikir menghantam keras maish
berakhir tanpa ada hasil yang berakar. Begitu heboh jalanan sempit terus menghimpit
raga untuk mengelak.
Kesadaran diri yang
begitu sulit kudapatkan adalah sebuh kesadaran yang amat terlampau mahal untuk
ku bayar. Itu adalah sebuah harga yang begitu berharga untuk ku raih. Waktu
takan mungkin mengajakku untuk kembali, karena aku yang sudah berpaling
darinya. Aku sekedar memikirkan apa yang ada untuk saat ini, namun takan pernah
melihat untuk hari esok. Memang sangat menyebalkan, sebuah proses evolusi yang
tak kunjung berakhir.Tak ada dahan untuk akhir perjalanan ini.
#. viancapestrano (25-10-2014)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar