Senin, 14 November 2016

Cerita narasi bermonoton

Narasi Monolog Kehidupan



Berjalan dari satu sisi ke sisi lainnya adalah sebuah hal yang sangat sulit untuk di hadapi. Jalanan penuh bebatuan  membuat aku harus terantuk dan terus terantuk. Puing-puing jejak tapak kakiku terus membekas. Banyak halusinasi yang membuat aku terus berputar di sekitarnya. Problematika yang hanya sementara membuat aku berpaling dari kepasrahan diri.
Tawaku sekejap sekedar menghadirkan naluri pertahanan yang mulai menipis. Sepanjang tatapan mata bukanlah harapan yang tersimpan, namun kehancuran yang selalu tercermin. Puitisku berpaling dari benakku dan syairku terus bergelut melawan kekhilafan akal sehat.

Mimpi ini kadang berpulang, entah dimana dia harus beristirahat. Memoriku kini tak bertuan, melayang jauh dalam pikiran ini. Masaku masih begitu panjang untuk dijalani, namun rasaku begitu jauh untuk tercapai.
Menjauh dan bergerak tanpa aku bisa mengendalikannya. Sanubariku diam tak bergerak menghasilkan alur hidup yang terus tak menentu. Jati diriku mulai menghilang dan masih menanti kedatanganku kembali padanya. Tanganku tidak lagi bergerak mengikuti alunan  pikiranku, spesifik edukasi yang terlampau rumit ku terima. Manis hidup hanyalah fiktif belaka takan menjadi nyata dalam hidupku.


Media melenceng dari rencana mengantar mimpiku berpulang pada gugusannya. Masih tergambar jelas kenyataan, namun kepahitan terlampau amat banyak terlukiskan. Suara tak bertuan menghampiri sesering mungkin memberi bisikan halus menembus gendang telinga. Semua terhalangi properti syaraf  berpikirku. Kepakan sayap pembebasan begitu berat menghambat satu  prioritas kebangkitan dari keterpurukan takan bisa melambung tinggi. Pergerakan lambat kemudi kreasi mengajak prestasi menurun tak pernah mendaki.

Peralihan diriku begitu menekan dan menuntut pemulihan secepatnya. Ada gemuruh pemberhentian yang mengekang sanubari untuk menahan ambisi. Warna kelabu menghiasi latar mungkin takan terhapus dalam pejam  mataku. Logika berpikir menghantam keras maish berakhir tanpa ada hasil yang berakar. Begitu heboh jalanan sempit terus menghimpit raga untuk mengelak.

Kesadaran diri yang begitu sulit kudapatkan adalah sebuh kesadaran yang amat terlampau mahal untuk ku bayar. Itu adalah sebuah harga yang begitu berharga untuk ku raih. Waktu takan mungkin mengajakku untuk kembali, karena aku yang sudah berpaling darinya. Aku sekedar memikirkan apa yang ada untuk saat ini, namun takan pernah melihat untuk hari esok. Memang sangat menyebalkan, sebuah proses evolusi yang tak kunjung berakhir.Tak ada dahan untuk akhir perjalanan ini.

  #. viancapestrano (25-10-2014)

                                                                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar